Namanya Laila binti Ashim bin Umar bin Khaththab ra. Sejarah akrab memanggilnya Ummu Ashim. Ibunya bernama Ummu Amarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah as-Tsaqafy. Tidak hanya mata rantai nasabnya yang mulia, budi pekerti dan sejarah hidupnya terekam rapi dalam tinta emas sejarah.
Ummu Amarah adalah wanita yang menolak saran ibunya untuk mencampur susu perahan dengan air di tengah malam yang larut. Dengan polos beliau menjawab, “Wahai ibuku, seandainya Umar tidak melihat kita, akan tetapi Tuhan Umar melihat kita. Sungguh demi Allah swt., saya tak akan melakukannya. Dia juga melarang perbuatan itu!” Diam-diam Sayyidina Umar mendengar percakapan mereka yang kebetulan lewat di dekat rumah mereka. Kemudian beliau menuju Masjid Nabawi dan shalat bersama sahabat yang lain. Kemudian beliau pulang dan memanggil Ashim, putranya dan menyuruhnya mengawini gadis tadi.
Ummu Ashim tumbuh dalam suasana ketakwaan yang suci oleh keluarga-keluarga yang saleh. Ia berkembang di masa mudanya pada kecintaan terhadap ilmu. Ia berguru langsung kepada ayahnya, Ashim, dan meriwayatkan hadits darinya. Ummu Ashim adalah seorang yang berperilaku baik, jernih jiwanya, suci hatinya dan beriman kepada Allah swt. dengan benar.
Ummu Ashim memancarkan sifat dan karakter yang mulia dari kedua orangtuanya dan dari kakeknya, Umar bin Khaththab ra. sehingga menjadikannya berada dalam barisan terdepan wanita-wanita tabi’in pilihan.
Rasulullah saw. bersabda, “Cari-carilah yang terbaik untuk persemian benih kalian dan nikahilah wanita yang kufu’,” (HR. Ibnu Majah). Dari hadits tersebut Nabi saw. menganjurkan kepada orang yang ingin menikah agar memilih wanita didasarkan pada akhlak mulia, kesalehan dan kemurnian nasabnya serta mempunyai pendidikan yang baik agar menghasilkan keturunan dengan akhlak terpuji. Barangkali atas dasar itulah Abdul Aziz bin Marwan, salahsatu dari keturunan Bani Umayah, tidak segan-segan memilih harta terbaiknya dan menyiapkan 400 dinar untuk maskawain pernikahannya. Abdul Aziz tidak memberikan kriteria njlimet sebagaimana pejabat atau pembesar pada umumnya, seperti kecantikan dan status sosial. Beliau hanya ingin ‘wadah’ yang baik dari keturunan yang baik pula.
Maka dipilihlah Laila binti Ashim, wanita salehah dari keluarga Khaththab. Bukan tanpa alasan mengapa pilihan jatuh pada gadis tersebut. Keluarga Khaththab dipandang sebagai keluarga yang memperhatikan ilmu dan pendekatan pada Allah swt. Sifat zuhud juga menjadi ciri khas keluarga ini. Begitu juga dengan Ummu Ashim sendiri yang mewarisi ketakwaan dari ibu dan ayahnya. Karenanya Allah swt. manganugerahkan nikmat berupa harta yang baik dan halal untuk menjadi maskawin dalam pernikahannya dengan Abdul Aziz.
Dari hasil pernikahannya dengan Abdul Aziz, lahirlah Umar bin Abdul Aziz, kelak ia menjadi khalifah dari dinsati Umayah, seorang khalifah yang zuhud, bertakwa, dan wara’. Dengan anugerah Allah swt. ini, Ummu Ashim tidak menyia-nyiakan amanah yang diberikan Allah swt. kepadanya. Beliau mendidik Umar kecil dengan kasih sayang penuh dengan memberikan perhatian semaksimal mungkin.
Pada suatu hari, tanpa sepengetahuannya, Umar masuk ke kandang kuda. Kemudian kuda tersebut menyerang Umar hingga terluka dan meninggalkan bekas dikeningnya. Mengetahuinya, Ummu Ashim meraih anak tercintanya itu dan menyeka darah yang keluar dari kening anaknya tersebut. Sadar akan kelengahannya dalam mengawas Umar, Ummu Ashim sangat menyesali kelalaiannya tersebut.
Dalam Tarikh ath-Thabari disebutkan, dari kejadian tersebut Abdul Aziz berkata kepada istrinya, “Diamlah wahai Ummu Ashim! Berbahagialah seandainya anakmu ini menjadi satu dari Bani Umayah yang mempunyai bekas luka dikepalanya.” Dan benar saja, kelak Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah yang adil sebagaimana yang juga diprediksikan buyutnya, Umar bin Khaththab ra.
Ummu Ashim terkenal dermawan apalagi pada golongan lemah. Kebaikan hatinya senantiasa ia curahkan terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangannya. Syahdan, suatu ketika Ummu Ashim bertemu dengan orang miskin di Mesir. Ia mencegatnya dan berbaik hati padanya lalu memberikan sesuatu padanya. Setiap kali bertemu dengan orang miskin tersebut, ia selalu berbuat baik padanya. Hal itu terus berlangsung hingga Ummu Ashim wafat.
Kemudian Abdul Aziz bin Marwan menikahi adik perempuan Ummu Ashim, Hafshah binti Ashim. Setelah itu ia membawa istrinya tersebut ke Mesir. Suatu hari Hafshah bertemu dengan orang miskin yang sering meminta-meminta kepada Ummu Ashim dulu. Namun ia tidak menoleh kepadanya kemudian orang miskin itu berkata, “Hafshah tidak seperti Ummu Ashim dalam hal kemuliaan, kebaikan, dan kedermawanannya.”
Semoga Allah swt. merahmati Ummu Ashim dan menerangi kuburnya serta kebaikannya ditiru oleh generasi penerusnya. Amin.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar