Ya Allah apapun yang akan Engkau
karuniakan padaku di dunia ini
berikanlah pada musuh-musuh-Mu
Dan apapun yang Engkau
karuniakan padaku di akhirat nanti
berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena sendiri cukuplah bagiku
Barangkali nama Rabi’ah al-Adawiyah tidak terlalu asing di telinga manakala namanya disebut. Ketulusan dan kesalehan dengan ruh cinta untuk-Nya membuat Rabi’ah dianggap sebagai perintis dan pengembang cinta Ilahi di kalangan sufi yang sebelumnya hanya menitikberatkan pada dua konteks; khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan). Bila Hasan al-Bashri merintis kehidupan sufistik berdasarkan rasa takut dan harap, Rabi’ah membuka jalan kepada Allah swt. dengan ekspresi cinta yang mendalam sebagaimana Rabi’ah ungkapkan dalam puisinya;
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka…
Bukan pula karena mengharap masuk surga…
Tetapi aku mengabdi karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka
Biarkan aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi , jika aku menyembah-Mu demi engkau semata
Janganlah engkau enggan memperlihatkan keindahan-Mu yang abadi padaku
Cinta dipahami dan dinikmati Rabi’ah hanya untuk-Nya, persaan cinta Ilahi yang Rabi’ah ungkapkan dalam bentuk puisi maupun prosa secara filosofis dengan kelindan yang indah mengantarkan Rabi’ah kepada penyaksian dalam kesatuan secara intuitif.
Memang sebelumnya konsep cinta Ilahi bukanlah hal baru dalam dunia sufi Islam. Kita mengenal Umar ibn al-Farid sufi Arab paling menonjol yang juga menggunakan cinta dalam mengekspresikan kehambaannya. Dalam khazanah sufi Persia, Jaluddin Rumi dipandang sebagai penyair cinta yang paling fenomenal bahkan hingga kini komunitas Rumi dan puisi sufistik cintanya terus menggema. Atau al-Hallaj yang juga memakai cinta dalam bentuk puisi dan prosa yang menggetarkan. Sedangkan Yahya bin Muadz al-Razi mengekspresikan cintanya dalam puisi dengan komposisi yang jelas dan kompleks.
Namun Rabi’ah, sebagaimana penuturan Syekh Abu al-Wafa’ al-Ghanami al-Taftazani dalam kitabnya, Madkhal I’la al-Tashawuf al-Islam, tidak hanya mempopulerkan cinta Ilahi dalam konsep sebagaimana para sufi di atas mengekspresikannya, ia lebih berbeda dari yang lain karena analisis dan pendefinisian cinta dalam bentuk nyata serta menguraikannya dalam bentuk yang luar biasa membuatnya menjadi analogi tersendiri terhadap kata cinta dalam dunia sufi.
Rabi’ah al-Adawiyah adalah simbol cinta dan hati yang sunyi dari hal apapun selain-Nya. Kesehariannya tidak pernah kering dengan perasaan cinta melebihi tingkatan ‘isyq (cinta gila). Karena cintanya, Rabi’ah selalu bertanya-tanya apakah yang telah dilakukannya mendapat Ridha-Nya ata tidak. Ketika masih berstatus budak, ketika kesedihan dan keterbelengguan dalam perbudakan memenjarakannya dalam sepi, ketika kesendirian menjadi bara yang enggan padam. Hingga kesabaran dan kerelaan yang dimilikinya untuk menanggung penderitaan dan rasa khawatirnya, ia bersenandung;
… dengan demikian aku tidak kuasa menahan penderitaan yang lebih hebat yang sedang mengganggu perasaan hatiku. Karena aku masih bertanya-tanya dan masih belum mendapatkan jawabannya; apakah Engkau ridha akan aku?
Baginya keresahan dan kesedihan melebihi apapun yang ada di dunia ini selain mejauhnya ridha dari Allah swt, karenanya cinta bagi Rabi’ah sendiri tidak bisa didefinisikan dan tidak bisa dikaitkan dengan apapun, karena cinta baginya adalah untuk Allah swt. semata. Cinta memang tumbuh dari dalam hatinya ketika masih di usia ketika cinta masih begitu tabu bagi seorang anak kecil. Ketika masih belia Rabi’ah sering menangis tanpa sebab apapun. Hal itu membuat ‘Abidah, kakaknya, merasa heran dan menegurnya. Di sela-sela isak tangisnya Rabi’ah menjawab, “Aku merasakan suatu kesedihan yang aneh sekali. Seolah-olah ada suatu jeritan di lubuk hatiku yang menyebabkan aku menangis. Bagaikan suatu munajat dalam pendengaranku yang tidak bisa aku hadapi kecuali dengan mengucurkan air mata.”
Begitulah ketika cinta menguasai seseorang yang menjelma menjadi semacam pendorong untuk selalu mendekatkan diri pada-Nya kapanpun dia berada dan bagaimanapun keadaannya, karena Ia hanya cukup bagi seseorang yang mencintai-Nya dengan hati yang sepi dari hal-hal yang membuatnya lalai dan lupa kepada-Nya. Sebagaimana penuturan sufi kenamaan, Syekh Yazid al-Busthami bahwa, cinta adalah mengabaikan hal-hal sebesar apa pun yang datangnya dari dirimu dan memandang besar hal-hal kecil apapun yang datang dari Kekasihmu. Semoga kita mendapatkan cinta yang diteladankan mereka.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar