Jumat, 19 Mei 2017

Sufi dan Percintaan: Kerinduan Bertemu dengan-Nya Menjadi Ruh Kehidupan #2

(مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَاللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُحِبْ لِقَاءَاللهِ لَمْ يُحِبْ اللهُ تَعَالَى لِقَاءَهُ (اخرجه البخاري
“Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari)
Cinta adalah kondisi mulia yang telah disaksikan oleh Allah swt. melalui cinta itu bagi hamba, dan Dia telah mempermaklumkan cinta-Nya kepada si hamba pula. Dan karenanya Allah swt. disifati sebagai Yang Maha Mencintai hamba, dan si hamba disifati sebagai yang mencintai Allah swt.
Sebagian pakar bahasa mengatakan akar kata dari mahabbah adalah al-Hubab yaitu gelembung-gelembung yang terbentuk di atas permuakaan air ketika hujan lebat. Jadi, cinta (mahabbah) adalah menggelembungnya hati ketika ia haus dan berputus asa untuk segera bertemu dengan sang kekasih. Kita mengenal Rabi’ah al-Adawiyah, Umar ibn al-Farid, Maulana Jaluddin Rumi, hingga Yahya bin Muadz al-Razi. Mereka semua menggunakan cinta sebagai mediasi untuk ‘bertemu’ dengan Allah swt.
Dalam kitabnya, Syarh Hadits Jibril, Habib Zain Ibrahim bin Smith memberikan definisi tentang cinta yaitu:
حالة يجدها الإنسان في قلبه تحمله على الإنهماك في طاعته والإجتهاد في خدمته والمسارعة الى مرضاته
Adalah sebuah keadaan yang membuat hatinya condong dan senang untuk melakukan ketaatan kepada Allah swt., bersungguh-sungguh dalam melakukan khidmah kepada-Nya, dan bersegara dalam meraih keridhaan-Nya.”
Oleh karenanya cinta menjelma menjadi sesuatu yang istimewa dalam kehidupan jika dipegang para sufi. Bila golongan awam memposisikan cinta sebagai manifestasi nafsu, cinta bagi kalangan sufi menjadi cinta yang menjadi ruh bagi gerak-gerik kehidupan. Hatinya terus berpacu dalam melakukan ketaatan kepada Allah swt. dan melakukan apapun yang diperintah oleh Allah swt. Jiwanya tunduk dalam ketakutan akan azab-Nya. Kehidupannya dipenuhi dengan kerelaan sempurna akan ketentuan-Nya, syukur akan karunia-Nya, dan sabar terhadap cobaan-Nya.
Sebaliknya, cinta Allah swt. kepada hamba lebih berupa kehendak-Nya untuk melimpahkan rahmat secara khusus kepada hamba, sebagaimana kasih sayang-Nya bagi hamba adalah kehendak pelimpahan nikmat-Nya. Jadi, cinta lebih khusus daripda rahmat. Kehendak Allah swt. dimaksudkan untuk menyampaikan pahala dan nikmat kepada si hamba. Dan inilah yang disebut rahmat. Sedangkan kehendak-Nya untuk mengkhususkan pada hamba, suatu kedekatan dan ihwal ruhani yang luhur disebut mahabbah.
Cinta menjadi mediasi antara hamba dan rabb-nya sehingga tidak ada lain yang mengalir dalam nafasnya selain Allah swt., Dzat yang dicintanya. Sehingga tidak heran apabila di kalangan sufi terkadanag mengalami trance  hingga melontarkan perkataan yang membingungkan bahkan dianggap sesat oleh orang awam. Bila cinta sudah menguasainya maka hanya ada Allah swt di dalam hatinya semata. Dalam hadis riwayat Anas bin Malik ra. Nabi saw. bersabda:
…وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَلَايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبَ إِلَيَّ  بِالنّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ وَمَنْ أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ لَهُ سَمْعًا وَبَصَرًا وَيَدًا وَمُؤَيِّدًا (رواه أنس بن مالك
“Tak ada cara taqarrub yang paling Kucintai bagi seorang hamba-Ku dibanding melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Kuperintahkan kepadanya. Dan senantiasa dia mendekati-Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Dan siapa pun yang Kucintai, Aku menjadi telinga, mata, tangan, dan tiang penopang yang kokoh baginya.”
Abu Bakar Muhammad al-Kattani bercerita bahwa beberapa syeikh di Makkah mendiskusikan tentang persoalan cinta selama musim haji. Hadir dalam majelis tersebut Imam al-Junayd, salah satu peserta termuda yang hadir. Melihat Imam al-Junayd, beliau ditanya, “Hai orang Irak, apa pendapatmu tentang cinta.”
Mendengarnya Imam al-Junayd menundukkan kepala seraya menangis kemudian menjawab, “Cinta adalah seorang pelayan  yang meninggalkan jiwanya dan melekatkan dirinya pada dzikir kepada Tuhannya, mengukuhkan diri dalam melaksanakan perintah-perintah Tuhan dengan kesadaran yang terus-menerus akan Dia dalam hantinya. Cahaya Dzat-Nya membakar hatinya dan dia ikut meminum minuman suci dari cangkir cinta-Nya. Yang Maha Kuasa terungkapkan kepadanya dari balik tabir alam ghaib-Nya, sehingga manakala dia berbicara, dia berbicara dengan perintah Allah, dan apa yang dikatakannya adalah dari Allah. Manakala dia bergerak, dia bergerak dengan perintah Allah, dan manakala dia diam, maka diamnya itu adalah bersama Allah. Dia akan selalu dengan Allah, bagi Allah dan serta Allah.” Mendengar kata-kata Imam al-Junayd itu, semua syekh itu pun menangis  dan berkata, “Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semoga Allah menguatkanmu, wahai mahkota orang ‘ârifîn.”
Tokoh sufi cinta legendaris Rabi’ah al-Adawiyah ketika masa-masa awal memasuki dunia sufi sering mengalami perasaan tidak tertahankan sehingga dia mengalami kesedihan yang amat sangat dan membuatnya selalu menangis. Hal itu terus dialaminya hingga gairah rindu pada-Nya menguasai diri Rabi’ah kemudian ia berkata, “Aku merasakan suatu kesedihan yang aneh sekali. Seolah-olah ada suatu jeritan di lubuk hatiku yang menyebabkan aku menangis. Bagaikan suatu munajat dalam pendengaranku yang tidak bisa aku hadapi kecuali dengan mengucurkan air mata.”
Keadaan tersebut membawanya dalam kekhawatiran yang amat sangat sehingga dia bermunajat, “Tuhanku, akankah Engkau membakar hati yang mencintai-Mu dengan api?” tiba-tiba muncul bisikan, “Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Engkau jangan menyangka buruk pada Kami.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Cinta Tuhan

Ya Allah apapun yang akan Engkau karuniakan padaku di dunia ini berikanlah pada musuh-musuh-Mu Dan apapun yang Engkau karuniakan pa...