Jumat, 19 Mei 2017

Imam asy-Syathibi (538-590 H) Sastrawan Agung dari Andalusia

Aku rasa orang-orang mulia merasa beruntung
Karena sempat melihat seorang guru bernama asy-Syathibi
Mereka begitu mengagumi dan menghormatinya
Seperti sahabat yang mengagumi dan menghormati Nabi
Begitulah pujian kepada Imam asy-Syathibi yang dilontarkan oleh al-Hafizh Abu Syamah al-Maqdisi sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-Jazri dalam Ghayah an-Nihayah. Ulama satu ini begitu banyak menuai pujian baik dari rekan-rekannya atau ulama-ulama di masanya. Tentang beliau as-Subki berkata, “Sesungguhnya ia adalah orang yang memiliki daya hapalan yang sangat kuat. Ia adalah seorang ulama ahli fikih, ulama ahli qira’at, ulama ahli hadits, dan ulama ahli nahwu. Ia seorang yang zuhud, tekun beribadah, khusyu’, dan sangat cerdas.”
Nama lengkapnya adalah Muhammad alias Abul Qasim al-Qasim bin Firruh bin Khalaf bin Ahmad ar-Ra’ini al-Andalusi asy-Syatibi. Lahir di daerah Syatibiyah, termasuk wilayah Andalusia, pada tahun 538 H. Beliau hidup pada masa Ya’qub al-Manshur penguasa Andalusia waktu itu dari dinasti Muwahhidun. Belajar al-Qur’an di Andalusia dan setelah dianggap cukup beliau melanjutkan rihlah pengembaraan ilmunya pada ulama di Valencia untuk belajar hadits. Beliau termasuk ulama tunanetra sejak lahir namun hal tersebut tidak menyebabkan dirinya berdiam diri. Ketekunan dan kesungguhan dalam menyelami ilmu Allah swt. membuatnya  mulia dan dikagumi oleh teman-temannya maupun ulama-ulama di masanya.
Kasidah yang Fenomenal
Harzu al-Amâni wa Wajhu at-Tahâni fi al-Qira’at as-Sab’i adalah karya Imam asy-Syathibi dalam bidang kasidah yang sangat populer. Kumpulan kasidah tersebut populer dengan Matan asy-Syathibi. Kasidah tersebut merupakan pencapain tertinggi dalam bidang sastra. Pengungkapannya begitu indah dan sangat luar biasa, sehingga tak berlebihan bila dikatakan sebagai cahaya dari Allah swt. yang menerangi akal dan hatinya. Karyanya ini sarat dengan pesan-pesan dan makna-makna yang mulia dengan penyampaian yang ringan.
Selain itu, para penunggang unta biasa melantunkan Hirz al-Amani dan Aqliyat Atrab al-Fadhai’l, dua kasidah lain Imam asy-Syathibi yang cukup populer. Popularitas dua kasidah ini sangat dikagumi dan diakui oleh para penyair, sastrawan, dan ulama ahli qira’at terkemuka. Imam asy-Syathibi mampu menyederhanakan masalah-masalah pelik dengan penyampaian yang mudah dipahami. Kasidah lain yang disusunnya adalah Aqilat Atrab al-Qasha’id fi Asna al-Maqashid dan Nazhimat az-Zuhri. Beliau juga menyusun kasidah yang terdiri dari lima ratus bait yang mengulas Kitab at-Tahmid karya Ibnu Abdil Barr.
Karamahnya
Tetang karamah yang dimiliki oleh Imam asy-Syathibi, Imam Ibnul Jauzi mendapat cerita dari gurunya. Di pagi yang buta, setelah shalat shubuh, di daerah al-Fadhiliyah Imam asy-Syathibi duduk bersiap-siap untuk mengajar. Orang-orang yang sudah semalaman menunggu segera mengerumuninya. Biasanya begitu duduk, Imam asy-Syathibi mengatakan, “Siapa yang datang paling dahulu silahkan membaca.” Kemudian beliau menunjuk orang yang datang dan seterusnya hingga selesai. Pada suatu hari ada salahsatu muridnya yang datang lebih awal , karena ia ingin bisa mendapatkan kesempatan yang pertama untuk membaca. Begitu duduk, Imam asy-Syathibi mengatakan, “Siapa yang datang nomor dua, silahkan ia membaca terlebih dahulu.” Orang yang datang nomor dua pun segera membacanya. Sementara orang yang dating pertama hanya diam dalam kebingungan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Dengan tanda tanya besar yang berkecamuk di pikirannya, ia berpikir tentang kesalahan atau dosa apa yang telag ia lakukan sehingga gurunya bersikap seperti itu. Setelah beberapa lama, ia baru sadar bahwa pada malam itu ia mengaji dalam keadaan hadats besar. Ia begitu terburu-buru untuk mendapat giliran membaca pertama di majelis pengajian Imam asy-Syathibi sehingga ia tidak sempat untuk mandi besar. Dalam kegelisahannya murid tersebut  mendatangi lagi Imam asy-Syathibi yang masih tetap menyimak bacaan temannya tadi. Sesegera mungkin ia pergi menuju ke pemandian yang terletak di samping majelis pengajian gurunya tersebut. Setelah selesai mandi ia pun kembali ke majelis sedang Imam asy-Syathibi masih menyimak bacaan temannya tadi. Setelah temannya tersebut selesai membaca, Imam asy-Syathibi berkata, “Siapa yang tadi datang pertama, silahkan membaca.” Dengan sedikit tercengang, murid itu pun membaca.
Wafat
28 Jumadil Akhir tahun 590 H/ 19 juni 1194 M dunia berkabung dengan meninggalnya ulama besar dari Andalusia ini. Jenazahnya disemayamkan di pemakaman al-Qadhi al-Fadhil Abdurrahim al-Bayasani, Kairo yang makamnya sangat terkenal sampai saat ini. Beliau banyak mewarnai ghirah keilmuan di Andalusia lebih-lebih dalam kasidah. Semoga kuburnya diterangi cahaya oleh Allah swt. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Cinta Tuhan

Ya Allah apapun yang akan Engkau karuniakan padaku di dunia ini berikanlah pada musuh-musuh-Mu Dan apapun yang Engkau karuniakan pa...