Jumat, 19 Mei 2017

Wajib Belajar Sastra

Menyikapi kearifan estetika dunia Islam, satrawan santri harus bicara.
Berbicara sastra berarti berbicara tentang estetika atau keindahan. Keindahan, tentu saja unsur yang penting bagi kehidupan. Bukankah Allah itu Indah dan suka pada Keindahan, begitulah salah satu maqolah arab yang masyhur. Dalam penerapannya secara ideal sastra merupakan unsur yang sangat penting bagi kehidupan. Hal itu karena sastra mampu memberikan wajah-wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan (Azzah Zain al-Hasany, 2007).
Dalam kaitannya dengan sastra ala santri kita akan menyelami sastra dan urgensitasnya dengan agama sebagai dasar primordialnya. Santri sebagai pemegang tongkat estafet tunggal para ulama secara mayoritas akan bersentuhan langsung dengan dimensi sosial. Dengan adanya tugas seperti itu santri, harus menonjolkan sifat sosial yang kuat serta tidak individualistik. Bila ditarik ke ranah seni, individu jenis ini tidak hanya memandang seni hanya tidak untuk kesenangan belaka. Akan tetapi seni harus memberikan kontribusi positif bagi penikmatnya. Unsur akhlak, tauhid, atau yang lainnya bisa disuntikkan dalam karya ini sekiranya bisa berdampak positif bagi pembacanya. Penyair ini termasuk penyair beriman yang senantiasa melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Penyair seperti ini yang disinggung dalam ayat: “Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat di mana mereka kembali.” (asy-Syu’araa:227)
Sejarah mencatat dalam perkembangan kesusastraan pesantren (islami) tokoh Islam awal di Tanah Air merupakan peletak batu pertama sastra islami. Hal itu diilhami ketika para saudagara dari timur tengah maupun india berbondong-bondong datang ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Maka tak heran kita mengenal Hamzah Fansuri dengan Syarabul Asyiqin-nya atau Syamsuddin al-Sumatrani dengan Mi’rat al-Imam-nya. Di abad ke-20 puluh kita mengenal Haji Abdul Malik Amrullah (HAMKA) dengan karya monumentalnya Tafsir al-Azhar dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Hingga abad ke-21 sastra islami semakin menemukan ruhnya. Hal itu ditandai ketika kumpulan cerpen Helvy Tiana Rosa, Ketika Mas Gagah Pergi. Secara tidaklangsung Helvy menandai ghirah sastra islami semakin mengembangkan sayapnya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita terus berpangku tangan? Sudah saatnya santri ikut meramaikan perkembangan ini. Dakwah yang tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami apa yang disampaikan.  Bukankah al-Quran merupakan  puncak selera sastra. Sampai kapan kita mau berdakwah dengan metode konvensional yang menjenuhkan itu? Ayo mulai saat ini kuatkan tekat, singsingkan lengan, gantungkan semangat. Saatnya kita berdakwah dengan sastra. Bukankah Allah tidak memberatkan hambanya dalam hal ibadah. Termasuk berdakwah. Apalagi dengan sastra.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Cinta Tuhan

Ya Allah apapun yang akan Engkau karuniakan padaku di dunia ini berikanlah pada musuh-musuh-Mu Dan apapun yang Engkau karuniakan pa...